

pertama kali ak bertemu dengan mu .. ak mulai melihat sebuah keindahan yang pernah kupunya ... kau begitu ayu atas ciptaan-NYA...mata mu menggambarkan bulan sabit yang memancarkan cahaya di malam hari ...tutur sapamu begitu halus bagaikan aliran sungai nil yg mengairi kota di sekeliling nya ...hitam rambut mu melambangkan sebuah mahkota yang terjaga dengan baik .... itu lah tegukan pertama yang kau suguhkan untukku... sehingga ak harus jujur bahwasannya ak menyukaimu .... tapi kenap harus "BANDUNG" dan kini tantangan dan ancaman mulai datang satu persatu... Tuhan berikanlah aku jalan untuk bisa menikmati nikmat-MU ini... Aku juga berhak bahagia... Berikan restu dan halal-Mu "amin"
TerKadang tak sengaja aku melihatnya...Senang rasanya berada disana bisa Selalau tertawa,bergembira dan Tidak ada sedikit kekhawatiran...Tapi sakit rasanya kepala ini Jika selalu melihat keatas dan Membuat tulang-tulang leher ku menjadi sakit
Hanya mereka
Yang sanggup membangun rumah suciMU
Yang sanggup membeli kitab suciMU
Yang sanggup membayar zakat
Yang sanggup pergi ke tanah suci
Yang sanggup belajar ngaji
Yang pantas memujaMU
Hanyalah mereka
Yang berazaskan agamaMU
Yang berkampanye dengan ayat suciMU
Yang berseminar tentang PiagamMU
Yang demonstrasi membawa benderaMU
Yang pantas jadi pembelaMU
Hanya yang bisa meneriakkan namaMU
Kami tidak pantas
Kami tak bisa
Kami tak sanggup
jika sudah seperti ini siapa yang patut di salahkan
jawabannya ada dalam pola pikir kita =)
wasalam




putra Purworejo 1981
Yang pantas menyebut namaMU
Hanya mereka
Yang sanggup membangun rumah suciMU
Yang sanggup membeli kitab suciMU
Yang sanggup membayar zakat
Yang sanggup pergi ke tanah suci
Yang sanggup belajar ngaji
Yang sanggup memanggil Zainudin MZ
Yang pantas memujaMU
Hanyalah mereka
Yang berazaskan agamaMU
Yang berkampanye dengan ayat suciMU
Yang berseminar tentang PiagamMU
Yang demonstrasi membawa benderaMU
Yang pantas jadi pembelaMU
Hanya yang bisa meneriakkan namaMU
Aku tidak pantas
Aku tak bisa
Aku tak sanggup
Aku tak tahu apa-apa
Yang kami tahu hanya mencari sesuap nasi
Dan makan tanpa menyebut namaMu
Aku tak bisa mengaji
Aku hanya bisa mendengung
Mengharap belas kasihan
Aku tak bisa berteriak
Aku hanya bisa merintih
Karena perut melilit
Aku tak takut neraka
Aku tak takut dosa
Apa itu semua
Aku lebih takut mati kelaparan
Aku lebih takut mati kedinginan
Aku lebih takut mati kehausan
Ketika mereka bersembah sujud di rumahMu
Aku menengadahkan tangan di pintu gerbang
Ketika mereka demonstrasi
Membela benderaMu
Aku bergerombol membawa kaleng kecil
Berharap uang logam
Ketika mereka bertablig akbar
Kami berbaris
Sambil menggendong bayi kecil
Berharap limpahan rupiah
Ketika mereka berseminar
Tentang kemiskinan
Sambil makan berlimpah
Aku menunggu
Bekas sisanya
Kami tak bisa lagi mengingatMU